Sabtu, 29 Jun 2013

5 Disiplin Pendakwah Berjaya

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang; Selawat dan Salam ke atas junjungan Besar Nabi Muhammad SAW.

ORANG yang pada mulanya berminat memahami isu agama dan cuba untuk mendalaminya, tp akhirnya lari dan menyepikan diri kerana sikap ditunjukkan 'pendakwah awam'/ umat Islam yang tidak bijak membicarakan ilmu agama.
Nabi Muhammad SAW pernah berpesan kepada Muaz bin Jabal dengan sabda yang bermaksud: "Permudahkanlah orang dan janganlah kamu menyusahkan mereka! Gembirakanlah orang dan janganlah membuatkan mereka lari daripada kamu." (Hadis riwayat al-Bukhari)
Konsep 'memberi kemudahan' serta 'menggembirakan' orang yang ingin mengenali Islam disuruh Nabi SAW kepada umatnya. Tidaklah menghairankan dalam masa kurang daripada 100 tahun risalah dakwah dibawa Nabi Muhammad SAW, suara azan sudah berkumandang di benua timur dan barat, melepasi batas budaya dan sempadan negara. 

Bagi menghasilkan natijah terbaik pada diri individu Muslim sebagai seorang pendakwah berjaya, beberapa faktor penting perlu dikaji antaranya:
  1. Memperbaiki diri dan mendidik jiwa ke arah iman dan takwa- Pendakwah akan menyeru orang lain menerusi perbuatannya terlebih dulu sebelum dinilai melalui tutur perkataannya. Perkara itu ditekankan kerana ia senjata paling penting daripada sudut penilaian manusia di persekitarannya.
  2. Pendakwah juga perlu membersihkan jiwanya daripada sifat mazmumah seperti angkuh, sombong, ego, penakut, bakhil, malas dan pendendam. Jika tidak dikikis segala ia pasti mengundang keburukan pada wajah Islam itu sendiri yang menjadi cerminan pada pendakwah berkenaan.
  1. Pendakwah perlu memperlengkapkan diri dengan ilmu syariat secukupnya. Ilmu syariat mempunyai peringkat, tahap berbeza dan perlu diambil oleh mereka menurut kemampuan akal seperti sabda Nabi Muhammad SAW yang bermaksud: "Barang siapa yang dikehendaki Allah dengan kebaikan nescaya dia akan diberikan kefahaman oleh Allah dalam urusan agamanya." (Hadis riwayat al-Bukhari)
  1. Pendakwah juga perlu mempelajari kemahiran berkomunikasi dengan masyarakat sekeliling tanpa mengira usia, budaya, agama, pangkat dan etnik. Kemahiran itu penting bagi membina hubungan baik dengan mereka serta menjadi peribadi disukai ramai.
  2. Pendakwah perlu mempelajari kemahiran berdakwah melalui cara terbaik semasa berinteraksi dan berkomunikasi, dialog semasa, memberi kesan kepada pendengar, menarik minat mereka untuk terus mendengar dan isu yang diutarakan sesuai dengan tajuk semasa.

Rabu, 19 Jun 2013

5 manfaat Tidur siang

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang; Selawat dan Salam ke atas junjungan Besar Nabi Muhammad SAW.

Mungkin tak banyak orang yang mengetahui bahwa tidur siang yang kita lakukan banyak manfaatnya.
Berikut ini manfaat luar biasa tidur siang bagi kesihatan anda :
  1. Tidur siang mampu meningkatkan daya ingatan otak anda. Sebuah kajian pada tahun 2008 menemui bahwa tidur siang dalam 45 minit mampu meningkatkan daya ingatan.
  2. Meningkatkan produktiviti kerja. Bagi anda yang sering mengalami kekurangan tenaga dan buah fikiran setelah bekerja di sarankan untuk tidur siang agar produktiviti kerja anda meningkat.
  3. Tidur siang mampu mengubati insomnia/ gejala susah tidur. Sebuah kajian pada tahun 2011 menegaskan bahwa tidur siang akan membuat penderita insomnia jadi lebih bertenaga. Ini dikeranakan jumlah waktu rehatnya menjadi lebih panjang.
  4. Mengurangkan stress. Hormon stress akan mengalami penurunan setelah tidur di siang bagi anda yang semalam tidurnya kurang nyenyak.
  5. Mencegah penyakit jantung. Jika anda tidur siang selama 20-40 minit setiap hari akan mengurangi resiko penyakit jantung serta stroke. Kajian oleh orang Yunani menemukan bahwa orang yang tidur siang selama 30 minit mampu menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler sebesar 37% dan tidur siang yang sihat antara pukul 1-3 petang tak lebih dari 45 minit. Jika lebih dari waktu itu menyebabkan kepala anda berat ketika bangun. 

Sabtu, 15 Jun 2013

30 orang pertama dalam Islam...2

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang; Selawat dan Salam ke atas junjungan Besar Nabi Muhammad SAW.

11. Orang yang pertama menyusukan Nabi SAW : Thuwaibah RA.

12. Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan lelaki :

Al-Harith bin Abi Halah RA.

13. Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan wanita : 

Sumayyah binti Khabbat RA.

14. Orang yang pertama menulis hadis di dalam kitab / lembaran : 

Abdullah bin Amru bin Al-Ash RA.

15. Orang yang pertama memanah dalam perjuangan fisabilillah : Saad bin Abi Waqqas RA.

16. Orang yang pertama menjadi muazzin dan melaungkan adzan: Bilal bin Rabah RA.

17. Orang yang pertama bersembahyang dengan Rasulullah SAW : Ali bin Abi Tholib RA.

18. Orang yang pertama membuat minbar masjid Nabi SAW : Tamim Ad-dary RA.

19. Orang yang pertama menghunuskan pedang dalam perjuangan fisabilillah : 

Az-Zubair bin Al-Awwam RA.

20. Orang yang pertama menulis sirah Nabi SAW : Ibban bin Othman bin Affan RA.

Rabu, 12 Jun 2013

Ekonomi Kita-kita

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang; Selawat dan Salam ke atas junjungan Besar Nabi Muhammad SAW.

Judul : Ekonomi Kita-kita
Penulis : Muhaimin Iqbal
Penerbit : Pro-U Media - Yogyakarta
Cetakan : I ; Mei 2013
Tebal : 115 Halaman
ISBN : 978-602-7820-06-7

Semangat kaum muslimin dalam beribadah –sebagai manifestasi penghambaan kepada Allah- selayaknya tidak berhenti pada ibadah ritual semata. Apalagi ketika menilik lebih jauh tentang tugas kekhalifahan manusia di muka bumi. Bahwa memakmurkan bumi dengan amal shalih untuk kepentingan seluruh umat manusia adalah bagian tak terpisahkan dari proses penghambaan diri itu.

Oleh karena tugas memakmurkan bumi itu, maka salah satu lahan dakwah yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh penguasaannya adalah masalah ekonomi. Hal ini teramat penting, mengingat ekonomi kita saat ini, tidak dikuasai oleh kaum muslimin. Padahal, jumlah kaum muslimin, baik di negeri ini maupun di dunia secara umum, adalah mayoritas.

Kita mungkin saja ingat, ketika Rasulullah pertama kali pergi hijrah ke Madinah, hal pertama yang Rasul dirikan setelah masjid adalah pasar. Jika mendirikan masjid dianggap sebagai sunnah dan banyak diteladani oleh kaum muslimin dimanapun mereka berada, tidak demikian dengan mendirikan pasar. Bahkan, bagi sebagian kaum muslimin, pasar masih menjadi barang tabu yang tidak layak didatangi oleh ‘orang-orang suci’ yang sibuk di masjid. Padahal, jika melihat sejarah awal hijrah, ketika mendirikan masjid menjadi sunnah nabi, maka mendirikan pasar juga berkedudukan demikian. Tentu, pasar harus didirikan, dikelola dan dikembangkan dengan semangat kenabian pula.

Dalam tahap ini, perlu adanya kajian mendalam tentang konsep Pasar Madinah yang didirikan Rasulullah dan semangat pantang menyerah untuk mendirikannya di negeri kaum muslimin dimanapun mereka berada. Sehingga, perlu diadakan penyadaran kepada kaum muslimin, bahwa pasar –dalam hal tertentu- tak beda dengan masjid. Harus dimasuki oleh kaum muslimin agar nilai-nilai Islam terejawantah di sana dengan baik.

Lantas, apakah ketika kaum muslimin sudah mendirikan pasar sesuai dengan konsep Pasar Madinah, maka masalah ekonomi umat Islam sudah terselesaikan? Ternyata mendirikan pasar, hanya langkah pertama untuk mewujudkan ekonomi berkeadilan berdasarkan semangat meneladani sang Nabi junjungan.

Setelah kaum muslimin memiliki pasar sendiri, masalah berikutnya ada pada ketersediaan komoditi yang akan dijual di pasar tersebut. Sudah menjadi lumrah, hampir semua komoditi, baik yang alami maupun buatan, semuanya belum dikuasai oleh kaum muslimin. Bahkan, sebagai negara agraris, kita dibuat miris dengan melambung tingginya komoditi pertanian, impor membabi-buta hingga belum sejahteranya petani-petani kita. Ini semcam tamsil, jika diibaratkan tikus, maka rakyat Indonesia mati di dalam lumbung padi. Beginilah adanya.

Sehingga, tahap berikutnya, kaum Muslimin harus terjun ke dalam sektor riil perekonomian. Mulai dari pertanian, peternakan, pertambangan dan seterusnya. Proses ini harus berlaku secara berkelanjutan agar ketahanan pangan kaum Muslimin dan dunia menjadi sesuatu nyata yang sangat mungkin untuk kita nikmati hingga anak cucu.

Proses ini, bukan isapan jempol, bukan pula kerja instan. Proses dan prosedur panjang harus dilalui. Mulai dari ketersediaan lahan, tenaga professional, konsep yang matang, modal yang tidak sedikit, dan banyak hal lainnya.

Sebelum itu semua, niat yang benar harus ditanamkan. Karena bukan sekedar penguasaan ekonomi yang diniatkan. Tetapi lebih dari itu, semua dikerjakan dengan niat beribadah kepada Allah.

Benarnya niat ini yang akan berujung pada penyandaran diri yang sangat kuat kepada Allah. Sehingga, ketika misalnya kaum Muslimin belum punya lahan, maka dia akan berdoa kepada Allah. Bukankah Allah penguasa semua lahan di dunia ini? Jika kemudian terkendala dengan modal, mereka akan meminta modal kepada Sang Pencipta. Bukankah Allah Maha Kaya? Bukankah Dia bisa memberikan sebanyak-banyaknya modal kepada seseorang jika Dia berkehendak?

Semangat inilah yang membuat kaum Muslimin selalu optimis. Meski sumber daya mereka terbatas. Tapi karena mereka merasa memiliki Allah Yang Tiada Batas, maka mereka terus bergerak dan belajar menyempurnakan diri dan karya.

Akhirnya, kaum muslimin dituntut untuk mengatasi kemiskinan yang setidaknya memiliki berbagai macam bahaya. Meliputi: kekufuran, buruknya karakter (mudah berbohong ketika mereka berhutang ), eksploitasi pemikirian oleh si kaya terhadap si miskin, dan mudahnya orang miskin terprovokasi isu negatif. Guna mengatasi kemiskinan tersebut, kaum muslimin dibekali dengan tujuh senjata. Yaitu, bekerja, tanggung jawab terhadap kerabat dekat, zakat, tanggung jawab para pemimpin, pemenuhan tanggung jawab tertentu (terhadap orang miskin, yatim, dan lain-lain), pelaksanaan ibadah tertentu (Qurban, Fidyah, dll.) dan sedekah. (hal 105-112). []



Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak
Facebook: usman.alfarisi.9 

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails